Laman

Lem Biskuit issue #1


Menurut Riska ( salah satu pembuat split-zine kolase ini ), Lem Biskuit diharapkan mampu menjadi perekat untuk penggiat kolase ( seperti lem ). Dan layaknya menikmati rasa pada sepotong biskuit, jika kau tak berniat mencicipinya maka kau tak akan mengetahui kerenyahannya, pungkasnya di bagian editorial.

Ternyata dalem yah maknanya, gue kira ini cuma plesetan dari Limp Bizkit haha

Well, apalah arti sebuah nama, yang jelas saat pertama kali melihat covernya, zine ini terlihat segar dan menggiurkan dengan tampil full color dan dicetak di atas kertas art paper berukuran A5 setebal 44 halaman.

So, ini adalah sebuah split zine  (kolaborasi ) kolase antara Riska dan Nyitnyit dimana keduanya menggunakan teknik cut and paste baik kolase-analog maupun kolase-digital. Dan namanya zine kolase, isinya pun full tentang kolase dari mulai terstimonial teman-teman editor tentang kolase, artikel sejarah kolase, personal thoughts, cerita editor terlibat dalam sebuah kolektif kreatif, sampe ke.. tentu saja, galeri karya-karya kolase kedua editornya. Semuanya dilayout full kolase.

Seinget gue, ini zine full kolase pertama yang gue baca. Kalo yang menggunakan teknik cut and paste/kolase untuk zinenya sih ada banyak, salah satunya ya..gue sendiri hehe. Kalo ga salah di edisi2 awal JB, beberapa halaman gue layout pake teknik cut & paste dan kolase, dan gue masih inget gimana asiknya proses pembuatan saat itu dari mulai nyari bahan, menggunting sampe menempelkannya ke obyek lain. Banyak lagi contohnya, hanya saja semuanya bukan zine kolase. Nah, yang mendedikasikan zinenya total untuk seni kolase, kayanya baru Lem Biskuit ini. Atau ada yang lain? gue banyak ketinggalan, kasi tau gue hehe 

Terakhir, keputusan untuk mencetak Lem Biskuit menjadi full color adalah tepat, karena segmen galeri nya jadi terasa lebih maksimal dimana warna ( bisa jadi ) adalah elemen yang cukup penting untuk karya kolase mereka. Hmm..meski jujur aje, gue harus mengernyitkan jidat untuk mengerti maksud yang hendak disampaikan pembuatnya, tapi salah satunya sangat menarik sampe gue membayangkan kalo itu dicetak gede, dikasih bingkai dan dipajang di kamer gue tentunya bakalan keren hehe.

Overall, zine yang mengasikkan.

Yang tertarik, pengen mengorder atau nge-submit karya untuk edisi selanjutnya, bisa kontak ke :

@riskafarasona dan @nyietnyiet
atau lembiskuitzine@gmail.com

Kaum Kera #3


Saat pertama kali membuka lembaran zine ini dan sekilas membaca materinya, gue langsung terhenyak. Ini sangat mengingatkan pada zine favorit gue sekitar 2 atau 3 tahun kebelakang : Nobody Zine. Dari mulai tata letak, penempatan gambar/artwork, materi dan penulisannya semuanya terasa familiar ama zine bikinan Jiwa Singa itu. Pembuatnya ( Manusia kera ) pastinya sangat terinspirasi sama dia hehe. Ah, tapi lupakan..ini mungkin cuma perasaan gue aja.

Ngomong2 soal Jiwa Singa, kemana dia? ada beberapa kabar buruk dan berita simpang siur tentangnya yang gue denger. Apapun itu, semoga semuanya baik-baik saja dan gue cuma mau bilang kalo gue salah satu penggemar tulisan2 nya.


Oke, langsung aja 


Di edisi #3 ini ada resensi rekaman ben grindcore legend asal Semarang AK/47 "Verba Volant Scripta Manent", lalu disusul tulisan bagus Adrenaline Katarsis " Satu Dekade Sepeninggal Pramoedya ", halaman berikutnya ada Interview bersama Riska Farasonalia ngobrol asik ngalor ngidul seputar aktifitas skena dan band fastcore nya ( Dead Alley ), kota Semarang, feminisme dan isu panas soal pembubaran event Lady Fast waktu itu. Next page, ada artikel "nama saya Iwan Fals" yang dulu udah pernah dimuat di Nobody Zine. Tulisan Jiwa Singa ini beneran sangat bagus, dimana penulis mencoba mengambil perspektif dari Iwan Fals sendiri. keren. Halaman berikutnya, ada artikel dari Senartogok tentang "Kota Kehilangan Permainan di Tengah Arus Kemajuan ". Abis itu, Roel Riot ikut berkontribusi dengan menulis kronologi pembubaran acara Lady Fast yang rame kemaren, dan edisi #3 ini ditutup ama Resensi Buku " Bandar " karya Zaky Yamani yang ditulis oleh Afriyandi Wibisono serta artwork karya Ben Mulyo Wicaksono yang mengisi dua halaman terakhir.
 

Overall, Kaum Kera adalah zine yang padat, kritis dan penuh gizi. Gue cuma dapet 3 edisi, entah apakah sudah ada edisi barunya?

Coba kalian kontak sendiri ke :


kaumkera.infoshop@gmail.com

Kerani edis #1


Kalo liat covernya, gue kira nama zine ini adalah Litera. Pas gue buka halaman selanjutnya, ternyata namanya Kerani. Dan ini adalah edisi perdananya. 

Oke, untuk edisi #1 ini, Kerani menanyai teman-temannya tentang buku apa yang membuat mereka menjadi suka membaca. Jawaban dari teman-temannya itu kemudian menjadi kumpulan cerita pengalaman tentang asal mula kegemaran membaca seseorang tumbuh. Ah, selalu menarik membaca pengalaman personal seseorang tentang sesuatu seperti ini. 


Lalu ada cerita kunjungan Tito Hilmawan ke C2O library di Surabaya


Dan ditutup dengan artikel singkat tentang 'kematian sang penulis' ( yang konon sepintas mirip dengan pendapat 'God is Dead' nya Nietszche ). Sangat menarik dan berhasil menjadi penutup untuk zine yang menyenangkan ini. 


Contact : 

litera-obscura.tumblr.com
literaobscura@gmail.com


DOWNLOAD